tulisan

MENULIS CERPEN BERDASARKAN PENGALAMAN DIRI SENDIRI
a.Sudut pandang
Nurgiantoro (2002:246) menjelaskan sudut pandang dalam karya fiksi mempersoalkan siapa yang menceritakan atau dari posisi mana (siapa) peristiwa dan tindakan itu dilihat. Abrams melalui Nurgiantoro (2002:148) menjelaskan bahwa sudut pandang merupakan cara atau pandangan yang digunakan pengarang sebagai sarana unyuk menyajikan tokoh, tindakan latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dala sebuah karya fiksi kepada pembaca. Jadi sudut pandang merupakan strategi, teknik, siasat yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya.
Agar Anda lebih memahami mengenai sudut pandang, berikut akan diberikan contoh konkretnya. Misalnya sebua peristiwa mewabahnya penyakit menular di sebuah kampung. Warga kampung satu per satu terkena penyakit tersebut hingga meninggal. Tokoh yang terlibat antara lain: warga kampung, dokter, kepala desa, pejabat pemerintahan, dan mungkin orang luar. Sudut pandang menentukan bagaimana wujud cerita. Jika sudut pandang cerita diangkat dari sudut warga kampung tersebut, artinya: narator berlaku sebagai warga kampung, maka cerita mungkin banyak menonjolkan perasaan mereka dan ketakutan-ketakutan mereka akan wabah tersebut. Lain halnya sudut pandang diangkat dari orang di luar kampong tersebut, mungkin pelukisan peasaan takut tidak berlebihan hanya sekedar penyajian informasi/melukiskan keadaan fisik.
b. Bahasa
Bahasa menjadi unsur bahan dalam seni sastra. Selain itu, bahasa juga menjadi alat atau sarana untuk mengungkapkan ide atau gagasan dalam mencipta sebuah karya sastra. Tidak hanya itu, bahasa merupakan unsure pembangun cerpen yang sangat penting. Nurgiantoro (2002:272) menjelaska bahwa bahasa mengemban fungsi utamanya dalam sastra, yaitu fungsi komunikatif. Segala yang akan disampaikan pengarang atau sebaliknya penafsiran oleh pembaca pasti menggunakan bahasa. Agar memperoleh hasil sastra yang berefek, bahasa dalam sastra disiasati, dimanipulasi, dan didayagunakan secermat mungkin sehingga membentuk bahasa nonsastra. Unsur yang berkenaan dengan bahasa dalam sebuah karya sastra adalah gaya bahasa.
c. Moral(Amanat atau Pesan)
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001:754), moral mengacu pada pengertian (ajaran tentang) baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya; akhlak;budi pekerti;atau susila. Nurgiantoro (2002:321) menjelaskan moral dalam karya sastra mencerminkan pandangan hidup pengarang yang bersangkutan, pandangan tentang nilai-nilai kebenaran, dan hal itulah yang ingin disampaikan kepada pembaca. Jadi, moral dalam karya sastra dapat disampaikan pengarang pada pembaca.

Sumber: Mahir Berbahasa Indonesia Yudhistira

Published in: on January 2, 2010 at 10:01 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://ririndisini.wordpress.com/2010/01/02/tulisan/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: